Jumat, 29 April 2011

Pendidikan Masa Khulafaur Rasyidin

A.    Masa Kepemimpinan Abu Bakar as-shiddiq (632-634 M)
Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar as-Shiddiq sebagai Khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat setelah Nabi wafat untuk menggantikan Nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintahan.[1]
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan memengaruhi orang-orang islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian, dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat nabi dan para hafiz Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, Umar bin Khatab menyarankan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan al-Qur’an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.[2]
Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan Tauhid, keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan dan lain sebagainya.
1.      Pendiudikan keimanan, yaitu menenemkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2.      Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya.
3.      Pendidikan ibadah, seperti pelaksanaan Shalat, puasa, dan Haji.
4.      Pendidikan kesehatan, seperti tentang kebersihan, gerak-gerik dalam Shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.[3]
Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab,[4] merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar[5] dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Nabi yang terdekat. Lembaga pendidikan Islam adalah masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, kesimpulannya adalah pelaksanaan pendidikan Islam pada masa Abu Bakar sama dengan pendidikan Islam pada masa Nabi, baik materi maupun lembaga pendidikannya.

B.     Masa kepemimpinan Umar bin Khattab (634-644 M)
Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia, pikiran, perasaan dan kemampuan berbuat, merupakan komponen dari kemuliaan dan kesempurnaan ynag melengkapi ciptaan (kejadian) manusia.
Abu Bakar telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin setelah Rasul wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[6] Pada masa khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha perluasan wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa Umar bin Khattab meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir.[7]
Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh  tidak diperlukan untuk keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan terpusat di Madinah.[8]
Dengan meluasnya wilayah Islam sampai keluar jazirah Arab, tampaknya khalifah memikirkan pendidikan Islam di daerah-daerah yang ditaklukkan itu. Untuk itu, Umar bin Khattab memerintahkan para panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.[9]
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di Kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan itu, mereka bertugas mangajarkan isi al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya, seperti Fikih kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Diantara sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab ke daerah adalah Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hashim. Kedua orang ini ditempatkan di Basrah. Abdurrahman bin Ghanam dikirim ke Syiria dan Hasan bin Abi Jabalah dikirim ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
Dari hal di atas yang menjadi pendidik adalah Umar dan para sahabat-sahabat besar yang lebih dekat dengan Rasulullah dan memiliki pengaruh yang besar, sedangkan pusat pendidikannya selain Madinah adalah Mesir, Syiria, dan Basrah.
Meluasnya kekuasaan Islam mendorong kegiatan pendidikan Islam bertambah besar, karena mereka yang baru menganut agama Islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari Nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah daerah yang jauh dari Madinah, sebagai pusat agama Islam. Gairah menuntut ilmu agama Islam ini yang kemudian mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin keagamaan.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis al-Qur’an dan menghafalkannya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Pendidikan pada masa Umar bin Khattab lebih maju daripada dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai nampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukan harus belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.
Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan pendidikan di masa khalifah Umar bin khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan di samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya. Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.

C.     Masa Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H: 644-656 M)
                        Nama lengkapnya adalah Usman ibn Abil Ash ibn Umayah. Beliau masuk Islam atas seruan Abu Bakar as-Shiddiq.[10] Usman bin Affan adalah termasuk saudagar besar dan sangat pemurah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Usman diangkat menjadi khalifah hasil pemilihan panitia enam yang ditunjuk olek Khalifah Umar bin Khattab menjelang beliau akan meninggal. Panitia yang enam itu adalah: Usman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf.
                        Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengna masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar ban menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan tersebut sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
                        Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bias memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
                        Khalifah Usman bin Affan sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisiahn dalam bacaan al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, khalifah Usman memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut, adapun tim tersebut adalah: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist
                        Bila terjadi pertikaian bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an ini diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy, sedangkan ketiganya adalah orang Quraisy.
                        Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Usman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharap keridhaan Allah.
                        Bahwa pada masa khalifah Usman bin Affan tidak banyak terjadi perkembangan pendidikan, kalau dibandingkan dengna nasa kekhalifahan Umar bin Khattab, sebab pada masa khalifah Usman urusan pendidikan diserahkan saja kepeda rakyat. Dan apabila dilihat dari segi kondisi pemerintahan Usman banyak timbul pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksenangan mereka terhadap kebijakan Usman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan.

D.     Masa kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H: 656-661)
                        Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib adalah putra dari paman Rasulullah dan suami dari fatimah anak Rasulullah. Ali bin Abi Thalib diasuh dan dididik oleh Nabi. Ali terkenal sebagai anak yang mula-mula beriman kepada Rasulullah.
                        Ali adalah khalifah yang keempat setelah Usman bin Affan. Pada pemerintahannya sudah diguncang dengan Aisyah (istri nabi) beserta Thalhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman, peperangan di antara mereka disebut perang jamal (unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah , muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.[11]
                        Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut perang Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Sementara Ali menolak, tetapi karena desakan sebagian tentaranya akhirnya Ali menerima tahkim, namun tahkim malah menuimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara tahkim, meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu khawarij.
                        Berdasarkan Uraian di atas, pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan, sebab keseluruhan perhatiannya tertumpu pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam. Dengan demikian, pola pendidikan pada masa khulafaur rasyidin tidak jauh beda dengan masa Nabi yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.

E.      Pusat-pusat pendidikan pada masa khulafaur rasyidin
                        Pusat-pusat pendidikan pada masa khulafaur rasyidin antara lain:
1.      Mekkah. Guru pertama di Makkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an dan Hadist.
2.      Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain: Abu bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.
3.      Basrah. Sahabat yang termasyhur antara lain: Abu Musa al-Asy’ari, dia adalah seorang ahli fikih dan al-Qur’an.
4.      Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Mas’ud mengjarkan Al-Qur’an, ia ahli tafsir, hadis, dan fikih.
5.      Damsyik (Syam). Setelah Syam menjadi bagian Negara Islam dan penduduknya banyak beragama Islam. Maka khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara itu. Yang dikirin adalah Muaz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga sahabat itu mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Muaz bin Jabal di Palestina, Ubaidah di Hims.
6.      Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadist.


[1]              Badri, Yatim, Sejarah Peradaban Islam , hlm 36.
[2]              Hanun Asorah, Sejarah Peradaban Islam, hlm 36
[3]              Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, hlm 18.
[4]              ibid
[5]              Asama Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, hlm 30
[6]              Badri Yatim, Op. cit, hlm 37
[7]              Hanum Asrorah, Op. cit, hlm 17
[8]              Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, hlm 51
[9]              Hanum Asrorah, Loc. Cit,.
[10]           kayaAhmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam,   Al-husna Zikra , hlm 266
[11]           Hanum Asrobah, Op cit, hlm 281

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar