Senin, 06 Juni 2011

Perkembangan Islam di Indonesia


A.Pendahuluan
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia pada abad ke-7 M. (A.Mustofa,Abdullah,1999: 23). Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh.(Taufik Abdullah:1983)
Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia. 
Kegiatan pendidikan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral.(Musrifah,2005: 20).
Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh tidak lepas dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan pujangga. Aceh menjadi pusat pengkajian Islam sejak zaman Sultan Malik Az-Zahir berkuasa, dengan adanya sistem pendidikan informal berupa halaqoh. Yang pada kelanjutannya menjadi sistem pendidikan formal.
B. Perkembangan Islam di Indonesia
a. Akselerasi perkembangan Islam pada umumnya .
Sejarah telah mencatat bahwa semua agama disiarkan dan dikembangkan oleh para pembawanya yang di sebut utusan Tuhan dan para pengikutnya. Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk paling dinamis dan cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya.[1] Akselerasi dan dinamika penyebaran Islam disebabkan adanya faktor-faktor yang dimiliki oleh Islam pada periode permulaannya faktor-faktor itu antara lain adalah:
1.    Faktor ajaran Islam itu sendiri.[2]Ajaran Islam baik di bidang aqidah,syariah dan akhlaqnya mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat, dapat diamalkan secara luwes dan ringan, selalu memberikan jalan keluar dari kesulitan.
2.    Faktor tempat kelahiran Islam, yaitu jazirah Arabia. Jazirah Arab lokasinya sangat strategis, sehingga hubungan dengan dunia luar sangat mudah. Juga keadaan iklim yang panas dan kering. Serta daerah padang pasir dan gunung-gunung yang tandus memaksa kepada penduduknya untuk mencari kehidupan dengan cara berdagang.

C. Awal masuk dan perkembangnya Islam di Indonesia
Ada dua faktor utama yang manyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa lain. Khususnya oleh bangsa-bangsa timur tengah.
1.       Faktor letak geografisnya yang strategis.
2.       Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika masuknya Islam ke Indonesia terjadi tidak terlalu jauh dari zaman kelahirannya. Ilmu sejarah memerlukan bukti otentik tentang permulaan masuknya Islam di Indonesia. namun, sampai sekarang masih mengalami kesulitan-kesulitan yang principal:
a.    Buku-buku sejarah Indonesia banyak yang di tulis oleh orang-orang belanda pada zaman pemerintahan belanda menjajah Indonesia.
b.    Buku-buku sejarah yang ada sering mengemukakan bukti berupa cerita rakyat yang hidup dan di percayai oleh orang banyak sejak dahulu sampai sekarang.
Beberapa pendapat tentang permulaan islam di Indonesia antara lain sebagai berikut :
Bahwa kedatangan Islam pertama di Indonesia tidak indentik dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia. Mengingat bahwa pembawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang bukan misi tentara dan bukan pelarian politik, sehingga mereka tidak berambisi untuk mendirikan kerajaan. Jadi masa tenggang antara kedatangan orang Islam pertama di Indonesia dengan berdirinya kerajaan Islam pertama adalah sangat lama.
   Ada beberapa teori tentang orang Islam yang pertama dating dan berdakwah Islam di Indonesia.
1.      Mubaligh dari persi (Iran), pada pertengahan abad 12 M. Alasannya karena kerajaan Islam di Indonesia bernama pase(pasai) berasal dari persi.[3] Di tambah dengan kenyataan bahwa orang Islam Indonesia sangat hormat terhadap keturunan sayid atau habib yaitu keturunan Hasan dan Husen putra Ali bin Abi Thalib.
2.      Mubaligh dari India barat, tanah Gujarat. Alasannya,karena ada persamaan bentuk nisan dan gelar nama dari mubaligh yang oleh Belanda dianggap sebagai kuburan orang-orang Islam yang pertama di Indonesia.
Dua macam pendapat tersebut sekarang sudah di anggap lemah.
      Seminar masuknya agama Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963 menyimpulkan sebagai berikut:
1.   Menurut sumber bukti yang terbaru , Islam pertama kali datang ke Indonesia abad ke 7 M atau 1 Hijriah dibawa oleh pedagang dan mubaligh dari negeri Arab.
2.      Daerah pertama yang di masuki ialah pantai barat pulau Sumatra (daerah baros). Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di pase.
3.      Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil  bagian yang berperan dan prosesnya berjalan secara damai.
4.      Kedatangan Islam di Indonesia ikut mencerdaskan rakyat dan membina karakter bangsa . terbukti pada perlawanan rakyat terhadap penjajah
Jika orang Islam pertama di Indonesia itu di tetapkan abad 1 Hijriah maka mereka itu dalam pengalaman agama kelahiran al salaf al saleh (golongan angkatan pertama terdahulu yang saleh).[4] Karena pada abad ke 1 hijriah belum di kenal adanya mazhab.
Dengan beberapa faktor penunjang keberhasilan seperti sikap ramah,sederhana, para mubaligh Islam berdakwah kepada rakyat awam dan kepada para penguasa sekaligus.proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui bermacam-macam kontak misal: jual beli,perkawinan dan dakwah langsung baik secara individu maupun kolektif.[5]

D.Pendidikan Islam pada masa permulaan di Indonesia
            Pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari perjalanan sejarah perkembangan Islam di Indonesia sendiri. Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa penyiaran agama Islam di Indonesia sudah dimulai sejak abad ke-7 M yaitu pada zaman khalifah Usman dan berkembang dengan berakhirnya parang salib yang menyebabkan kemunduran dunia Islam. Oleh karena itu tersiarnya agama Islam di Indonesia diwarnai oleh konflik-konflik yang kurang menguntungkan.
            Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia. Pendidikan Islam dilaksanakan secara informal.[6] Agama Islam datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang muslim, sambil berdagang mereka menyiarkan agama Islam kepada orang-orang di sekeliling mereka yaitu orang-orang yang membeli barang-barang dagangannya. Setiap ada kesempatan mereka memberikan pendidikan dan ajaran agama Islam.
            Pendidikan dan pengajaran Islam secara informal ini ternyata membawa hasil yang sangat baik. Berangsur-angsur agama Islam tersiar di  seluruh kepulauan Indonesia. Karena dengan cepatnya Islam menyebar di seluruh Indonesia dan karena mudahnya  orang masuk Islam yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat . maka banyak sekali orang tua yang tidak memiliki ilmu agama Islam yang cukup untuk mendidik anak-anak mereka. Maka mereka menyuruh anak-anak mereka pergi ke langgar/surau untuk mengaji kepada sang guru ngaji atau guru agama. Bahkan di masyarakat yang kuat agamanya ada suatu tradisi yang mewajibkan anak-anak yang sudah berumur 7 tahun meninggalkan rumah dan tinggal di langgar/surau untuk mangaji pada guru agama.[7]
            Di pusat-pusat pendidikan seperti surau,langgar,masjid,bahkan serambi rumah sang guru murid-murid berkumpul baik yang besar atau kecil,duduk di lantai,mengaji. Waktu belajar mengajar biasanya diberikan di waktu petang sebab waktu siang anak-anak membantu orang tuanya dan sang guru juga berkerja mencari nafkah untuk keluarganya. Itulah sebabnya pelajaran agama dan latihan beragama mendapat dukungan dari orang tua.bahkan dari masyarakat kampung / desa itu.[8]
            Tempat-tempat pendidikan Islam seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam formal yang berbentuk madarasah atau sekolah yang berdasar keagamaan.[9] Pondok pesantren tumbuh sebagai perwujudan dari strategi umat Islam untuk mempertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajahan barat. Serta akibat surau/langgar yang tidak dapat lagi menampung jumlah anak-anak yang ingin mengaji.

            Sistem pondok pesantren tumbuh dan berkembang dimana-mana dan ternyata mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensinya dari serangan atau penindasan baik fisik maupun mental dan kaum penjajah.
            Usaha untuk menyelenggarakan pendidikan Islam menurut rencana yang teratur sebenarnya telah di mulai sejak tahun 1476 dengan berdirinya Bayangkara Islah di Bintara Demak yang ternyata merupakan organisasi pendidikan Islam yang pertama di Indonesia. Sistem pendidikan agama Islam mengalami perubahan sejalan dengan itu pemerintahan jajahan (belanda) mulai mengenalkan sIstem pendidikan formal yang lebih teratur.

E. Pendidikan Islam pada masa raja-raja Islam
Pusat Keunggulan Pengkajian Islam Pada Masa Kerajaan Islam di Aceh
A.Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh
            Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa dearah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam ialah daerah Aceh.(Taufik Abdullah, 1983: 4). Berdasarkan kesimpulan seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal 17 – 20 Maret 1963, yaitu:
         -   Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, dan
             langsung dari Arab.
         -   Daerah yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera,adapun
             kerajaan Islam yang pertama adalah di Pasai.
         -   Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam Indonesia ikut aktif
             mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai.
-          Keterangan Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa
    peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.(Taufik  
    Abdullah, 1983: 5)

Masuknya Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, dari Persia, atau dari
Arab. (Musrifah, 2005: 10-11).Dan jalur yang digunakan adalah:
a.   Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran .
b.   Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para       
      pedagang, para mubaligh itu bisa dikatakan sebagai sufi pengembara.
c.   Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim, mubaligh dengan
      anak bangsawan Indonesia, yang menyebabkan terbentuknya inti sosial yaitu
      keluarga muslim dan masyarakat muslim.
d.   Pendidikan. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat
      pendidikan dan penyebaran Islam.
e. Kesenian. Jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama
   di Jawa adalah seni.

 Bentuk agama Islam itu sendiri mempercepat penyebaran Islam, apalagi
sebelum masuk ke Indonesia telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India, dimana kedua daerah ini banyak memberi pengaruh kepada perkembangan kebudayaan Indonesia. Dalam perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh sangat besar, karena mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab, tetapi juga Persia, India, juga dari Negeri sendiri.
Ada dua faktor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu:
1. Letaknya sangat strategis dalam hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan
     Tiongkok.
2.  Pengaruh Hindu – Budha dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu  
           berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh
          cukup jauh.(A.Mustofa, Abdullah, 1999: 53)
Sedangkan Hasbullah mengutip pendapat Prof. Mahmud Yunus, memperinci faktor-faktor yang menyebabkan Islam dapat cepat tersebar di seluruh Indonesia (Hasbullah, 2001: 19-20), antara lain:
a.   Agama Islam tidak sempit dan berat melakukan aturan-aturannya, bahkan
     mudah ditiru oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk agama
     Islam saja cukup dengan mengucap dua kalimah syahadat saja.
b.   Sedikit tugas dan kewajiban Islam
c.   Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi
      sedikit.
d.   Penyiaran Islam dilakukan dengan cara bijaksana.
e.   Penyiaran Islam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum,
      dapat dimengerti oleh golongan bawah dan golongan atas.
Konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab (Musrifah, 2005: 20-21), yaitu:
1.   Portilitas (siap pakai) sistem keimanan Islam.
2.   Asosiasi Islam dengan kekayaan. Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu
      dan berinteraksi dengan orang muslim pendatang di pelabuhan, mereka adalah
      pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan dan kekuatan ekonomi, mereka bisa
      memainkan peranan penting dalam bidang politik dan diplomatik.
3.   Kejayaan militer. Orang muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam
      peperangan.
4.   Memperkenalkan tulisan. Agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai
      wilayah Asia Tenggara yang sebagian besar belum mengenal tulisan.
5.   Mengajarkan penghapalan Al-Qur’an. Hapalan menjadi sangat penting bagi
     penganut baru, khususnya untuk kepentingan ibadah, seperti sholat.
6.   Kepandaian dalam penyembuhan. Tradisi tentang konversi kepada Islam
      berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai
      menyembuhkan. Sebagai contoh, Raja Patani menjadi muslim setelah
      disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang Syaikh dari Pasai.
7.      Pengajaran tentang moral. Islam menawarkan keselamatan dari berbagai
      kekuatan jahat dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Melalui faktor-faktor dan sebab-sebab tersebut, Islam cepat tersebar di seluruh Nusantara sehingga pada gilirannya nanti, menjadi agama utama dan mayoritas negeri ini.

B Pusat Keunggulan Pengkajian Islam Pada Tiga Kerajaan Islam di Aceh.
1. Zaman  Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke-15 H). (Mustofa Abdullah, 1999: 54)
 Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktekkan pola hidup yang sederhana. (Zuhairini,et.al, 2000: 135)
   Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut:
a.   Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab
      Syafi’i
b.   Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh
c.   Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama
d.   Biaya pendidikan bersumber dari negara.(Zuhairini, et.al., 2000: 136)
Pada zaman kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”.(M.Ibrahim, et.al, 1991: 61)
Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari negara-negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, Sultan sembahyang di Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi, dan Tajudin dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut Majlis Ta’lim atau halaqoh. Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru.

2. Kerajaan Perlak
 Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). Antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang Raja Pasai menikah dengan Putri Raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu.(Hasbullah, 2001: 29)
Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata egara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Daerahnya kira-kira dekat Aceh Timur sekarang. Pendirinya adalah ulama Pangeran Teungku Chik M.Amin, pada akhir abad ke-3 H, abad 10 M. Inilah pusat pendidikan pertama.
Rajanya yang ke enam bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai seorang Sultan yang arif bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam yaitu suatu Majlis Taklim tinggi dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i.(A.Mustofa, Abdullah, 1999: 54)Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik.
3. Kerajaan Aceh Darussalam
Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan Barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai di belahan Timur. Putra Sultan Abidin Syamsu Syah diangkat menjadi Raja dengan Sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M).
Bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan Kerajaan Aceh adalah Gampong (Kampung), yang dikepalai oleh seorang Keucik dan Waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya berdekatan dan yang penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari jum’at di sebuah masjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukim, yang memegang peranan pimpinan mukim disebut Imeum mukim.(M. Ibrahim, et.al., 1991: 75) 
Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain:
-   Sebagai tempat belajar Al-Qur’an
-   Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca
    huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam.
-   Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu.
-   Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an di bulan puasa.
-   Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan.
-   Tempat menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idhul Fitri atau bulan puasa
-   Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung.
-   Tempat bermusyawarah dalam segala urusan
-   Letak meunasah harus berbeda dengan letak rumah, supaya orang segera dapat
   mengetahui mana yang rumah atau meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat. (M. Ibrahim, 1991: 76)
Selanjutnya sistem pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti di Meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah kitab Nahu, yang diartikan kitab yang dalam Bahasa Arab, meskipun arti Nahu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat masjid, meskipun ada juga di dekat Teungku yang memiliki dayah itu sendiri, terutama dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ingin belajar nahu itu tidak dapat belajar sambilan, untuk itu mereka harus memilih dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di dayah tersebut yang disebut Meudagang. Di dayah telah disediakan pondok-pondok kecil mamuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, istilah Rangkang merupakan madrasah seringkat Tsanawiyah, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak. Rangkang juga diselenggarakan disetiap mukim. (Hasbullah, 2001: 32)
Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu:
1.   Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.   Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3.   Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar fikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjanaya yang terkenal di dalam dan luar negeri. Sehingga banyak orang luar datang ke Aceh untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh Darussalam berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Kerajaan Aceh telah menjalin suatu hubungan persahabatan dengan kerajaan Islam terkemuka di Timur Tengah yaitu kerajaan Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan pujangga-pujangga dari berbagai negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama dan pujangga ini mengajarkan ilmu agama Islam (Theologi Islam) dan berbagai ilmu pengetahuan serta menulis bermacam-macam kitab berisi ajaran agama. Karenanya pengajaran agama Islam di Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat di nusantara. Diantara para ulama dan pijangga yang pernah datang ke kerajaan Aceh antara lain Muhammad Azhari yang mengajar ilmu Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh Hajar ahli dalam bidang pogmatic dan mistik, Muhammad Yamani ahli dalam bidang ilmu usul fiqh dan Syekh Muhammad Jailani Ibn Hasan yang mengajar logika. (M.Ibrahim,et.al., 1991: 88)
Tokoh pendidikan agama Islam lainnya yang berada di kerajaan Aceh adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru agama yang terkena dengan ajaran tasawuf yang beraliran wujudiyah. Diantara karya-karya Hamzah Fansuri adalah Asrar Al-Aufin, Syarab Al-Asyikin, dan Zuiat Al-Nuwahidin. Sebagai seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, Syair si burung pungguk, syair perahu.
 Ulama penting lainnnya adalah Syamsuddin As-Samathrani atau lebih dikenal dengan Syamsuddin Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis, Mir’atul al-Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya.
 Ulama dan pujangga lain yang pernah datang ke kerajaan Aceh ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham wujudiyah dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun Melayu klasik. Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan Melayu klasik dan berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin.
 Pada masa kejayaan  kerajaan Aceh, masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya banyak didirikan masjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu masjid yang terkenal Masjid Baitul Rahman, yang juga dijadikan sebagai Perguruan Tinggi dan mempunyai 17 daars (fakultas).
 Dengan melihat banyak para ulama dan pujangga yang datang ke Aceh, serta adanya Perguruan Tinggi, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat
studi Islam. Karena faktor agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut B.J. Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam.(M.Ibrahim,et.al., 1991: 89)


  1. KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses belajar engajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang terpujikan dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan ciri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (insan kamil) Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh, tidak terlepas dari pengaruh Sultan yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran Tokoh pendidikan Hazah Fansuri, Syamsudin As-Sumatrani, dan Syaeh Nuruddin A-Raniri, yang menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.
Nama Kelompok :
Ø  Eka Wahyu Hidayati              ( D31209016 )
Ø  Galuh Sukma Kartika.P          ( D31209018 )
Ø  Wiwin Kustina. S                   ( D31209024 )
Ø  Zahratul Awwaliyah              ( D31209025 )
Ø  Rohmatul Faidah                   ( D31209026 )





DAFTAR PUSTAKA

Arifin, HM. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Drajat, Zakiah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Hasbullah.2001. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Ibrahim, M, et.al.1991. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta : CV. Tumaritis.
Mustofa.A, aly, Abdullah. 1999. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah. Bandung : CV. Pustaka Setia.
Sunanto, Musrifah.2005. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.


[1] L.Storddard,Dunia baru Islam,(the new world of Islam)
[2] Ibid.

[3] Prof.Dr.HAMKA,Makalah seminar sejarah masuknya islam ke Indonesia medan 1963

[4] KH.Anasmahfud,pahlawan ahlussunah wal jamaah,hal 6

[5] KH.saifuddin zuhri,sejarah kebangkitan islam dan perkembangannya di Indonesia ,hal 196
[6] Dra.Zuhairini Dkk,Sejarah Pendidikan Islam,Hal 209
[7] Prof.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Hal 34
[8] Deliar Noer,Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta,LP3ES,1982) Hal 15
[9] Dra.zuhairini Dkk,op.cit. Hal 212

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar