Senin, 06 Juni 2011

Psikologi Orang Dewasa


             A. Pembagian Masa Dewasa
Masa dewasa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.         Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
2.         Masa dewasa madya (midle adulthood)
3.         Masa usia lanjut (masa tua/ older adult)[1]
Pembagian senada juga diungkapkan oleh beberapa ahli psikologi. Lewis Sherril, misalnya, membagi masa dewasa sebagai berikut:
1.         Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
2.         Masa dewasa tengah, sudah mulai menghadap tantangan hidup, sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsafat untuk mengolah kenyataan yang tidak disangka-sangka. Jadi masalah sentral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
3.         Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ’pasrah’. Pada masa ini minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.[2]
                        Sementara menurut Ericson, pembagian masa dewasa adalah:
1.         Masa dewasa awal merupakan pengalaman menggali keintiman (intimacy), kemampuan untuk membaur identitas Anda dengan identitas orang lain tanpa takut bahwa Anda akan kehilangan sesuatu dari diri Anda. Lawan dari identitas adalah isolasi, yaitu mempertahankan jarak antara diri sendiri dengan orang lain. Keseimbangan antara intiminasi dengan isolasi adalah belajar melepaskan diri dari hubungan dengan orang lain dan tetap mempertahankan identitas diri.
2.         Masa dewasa tengah merupakan masa produktivitas maksimum. Pada masa ini kekuatan watak yang muncul, perhatian rasa prihatin dan tanggung jawab yang menghargai siapa yang membutuhkan perlindungan dan perhatian.
3.         Masa dewasa akhir, dalam masa ini nostalgia dapat menjadi sumber kekuatan dan kedamaian pribadi yang sejati. Nostalgia dapat menjadi wahana dagi orang lanjut usia untuk meninjau masa laampau guna memilih nilai-nilai, gagasan-gagasan kegiatan yang menentramkan.[3]

              B. Masa Dewasa Awal
1.      Perkembangan fisik
                  Dewasa awal berusia 18-40 tahun. Puncak kemampuan fisik individu dapat dicapai antara usia 18-40 tahun, yang diikuti dengan kesehatan yang baik.[4]
                  Golongan dewasa awal telah mencapai puncak kekuatan, energi, dan ketekunan yang prima. Secara fisik, mereka mempunyai kekuatan tubuh yang prima sehingga mereka giat melakukan berbagai kegiatan seolah-olah tidak mengenal rasa lelah. Barangkali, berbagai kegiatannya sangat padat dan masing-masing harus memperoleh perhatian serius. Namun, mereka tetap tekun dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya itu sampai menghabiskan banyak waktu, energi, atau biaya. Akibatnya mereka bekerja sampai malam bahkan kadang-kadang lupa mengurus dirinya sendiri. Hal itu karena ditopang oleh kondisi fisik yang sehat juga didukung kemauan dan ketekunan yang luar biasa (motivation, commitment, endurance)[5]
2.      Perkembangan kognitif
                  Warner schaie (dalam Hoffman, Paris, dan Hall, 1994;Papalia, Olds, dan Feldman, 2001; Santrock, 1999) berdasarkan pandangan Jean Piaget, mengemukakan tahap perkembangan kognitif. Perkembangan kognifit tersebut dikaitkan dengan kehidupan pekerjaan yang dialami individu semasa muda. Schaie membagi tahap perkembangan kognitif dewasa awal menjadi beberapa tahap, yaitu:
a.    Tahap menguasai pengetahuan dan ketrampilan (acquisitive, 6-25 tahun)
            Yang dimaksud dengan tahap acquisitive adalah tahap yang terjadi pada masa anak-anak dan masa remaja (bahkan dewasa awal) dan mereka berusaha mengetahui pengetahuan dan ketrampilan melalui jalur pendidikan (formal dan nonformal) guna mempersiapkan masa depannya, terutama ketika mereka bekerja dalam lembaga-lembaga sosial masyarakat. Dalam hal ini peran orang tua sangat penting dalam memberi semangat dan dukungan anak-anaknya agar memperoleh pendidikan terbaik. Demikian pula tersedianya lembaga-lembaga pendidikan yang baik di masyarakat akan dapat menguntungkan bagi terciptanya kualitas sumber daya manusia yang andal.
b.    Tahap pencapaian prestasi (achieving stage, 24-34 tahun)
            Masa pencapaian prestasi dianggap sebagai kemampuan untuk mempraktikkan seluruh potensi intelektual, bakat, minat, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperoleh selama masa akuisitif ke dalam dunia karier. Individu telah menempuh pendidikan formal jenjang akademi, atau universitas, kemudian ia mulai memasuki jenis pekerjaan praktis. Ia mencoba menerapkan ilmu dan ketrampilannya, apakah cocok atau tidak, dengan jenis pekerjaan yang dihadapinya.
c.    Tahap tanggung jawab (responsibility stage)
            Sebagai makhluk sosial, mau tak mau seseorang harus mampu mempertanggung jawabkan segala tindakannya secara etika, moral kepada masyarakat.
            Demikian pula orang yang memasuki masa dewasa awal, akan dituntut rasa tanggung jawabnya sebagai individu yang bekerja di lembaga sosial tempat ia bekerja, serta dituntut tanggung jawabnya sebagai individu yang telah membina kehidupan rumah tangga. Jadi, yang disebut dengan masa tanggung jawab, menuru schaie adalah rasa tanggung jawab yang harus diwujudkan dalam kehidupan masa dewasa awal sebagai seorang yang bekerja di lingkungan lembaga sosial-pekerjaan ataupun lembaga sosial keluarga. Hal ini dicapai masa dewasa awal hingga masa dewasa menengah.[6]
3.      Perkembangan Emosi, Sosial, dan Moral
                  Pada masa dewasa ini, perkembangan emosi, sosial, dan moral sangat berkaitan berbagai macam perubahan dari masa sebelumnya, yaitu masa remaja. Hal ini saja menimbulkan minat-minat yang berbeda yang menjadi fokus pada masa usia dini. Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi perubahan minat adalah perubahan kondisi kesehatan, perubahan status sosial ekonomi, perubahan dalam pola kehidupan, perubahan dalam nilai, perubahan peran seks, perubahan status dari belum nikah ke status menikah, menjadi orang tua, perubahan tekanan budaya dan lingkungan.
                  Untuk perkembangan sosialnya, sebagaimana yang ditekankan oleh erikson, masa dewasa dini merupakan masa krisis isolasi (Hurlock, 1991). Hal ini dikarenakan kegiatan sosial pada masa dewasa dini sering dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaan, dan keluarga.[7]
4.      Ciri khas perkembangan dewasa awal
                  Dalam psikologi Islam, dewasa awal disebut fase taklif, fase di mana seseorang telah menjadi manusia dewasa telah dikenai kewajiban sebagai ’abdullah dan sebagai khalifah di bumi, dalam proses menjadi pribadi yang berkualitas. Fase ini akan dapat dijalani oleh seseorang dengan baik bila dalam fase-fase sebelumnyatelah mempersiapkan diri agar peran ’abdullah dapat optimal, mampu berpikir bersifat tauhidik, memahami dan menjalankan perintah-perintah Allah dan hukum-hukum Allah dengan baik.[8]
                  Menurut Siti Partini Suardiman masa ini adalah:
a.       Usia produktif atau masa kesuburan sehingga siap menjadi ayah atau ibu dalam mengasuh dan mendidik anak.
b.      Usia memantapkan letak kedudukan ynag mantap
c.       Usia banyak masalah, serta adanya persoalan yang pernah dialami pada masa lalu mungkin berlanjut, serta adanya problem baru. Yaitu yang berhubungan dengan rumah tangga baru, hubungan sosial, keluarga, pekerjaan, dan faktor kesempatan, demikian pula faktor intern
d.   Usia tegang dalam emosi mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi. Misalnya persoalan jabatan, karier, sosial, teman.[9]
5.      Tugas-tugas perkembangan dewasa awal
                  Menurut Havighurst (Turner dan Helms, 1995) mengemukakan tugas-tugas perkembangan dewasa muda, diantaranya :
a.  Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya. Dia mencari pasangan untuk bisa menyalurkan kebutuhan biologis.
Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa tertentu, sebagai prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang berbeda-beda.
b.  Belajar hidup bersama dengan suami istri
Dari pernikahannya, dia akan saling menerima dan memahami pasangan masing-masing, saling menerima kekurangan dan saling bantu membantu membangun rumah tangga. Terkadang terdapat batu saandungan yang tidak bisa dilewati, sehingga berakibat pada perceraian. Ini lebih banyak diakibatkan oleh ketidak siapan atau ketidak dewasaan dalam menanggapi masalah yang dihadapi bersama.
c.       Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Masa dewasa yang memiliki rentang waktu sekitar 20 tahun (20 – 40) dianggap sebagai rentang yang cukup panjang. Terlepas dari panjang atau pendek rentang waktu tersebut, golongan dewasa muda yang berusia di atas 25 tahun, umumnya telah menyelesaikan pendidikannya minimal setingkat SLTA (SMU-Sekolah Menengah Umum), akademi atau universitas. Selain itu, sebagian besar dari mereka yang telah me­nyelesaikan pendidikan, umumnya telah memasuki dunia pekerjaan guna meraih karier tertinggi.
Dari sini, mereka mempersiapkan dan membuktikan diri bahwa mereka sudah mandiri secara ekonomis, artinya sudah tidak bergantung lagi pada orang tua. Sikap yang mandiri ini merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru. Belajar mengasuh anak-anak.
d.      Mengelola rumah tangga
Setelah menjadi pernikahan, dia akan berusaha mengelola rumah tangganya. Dia akan berusaha membentuk, membina, dan mengembangkan kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup. Mereka harus dapat menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing. Mereka juga harus dapat melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-anak dalam keluarga. Selain itu, tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua ataupun saudara-saudaranya yang lain.
e.       Mulai bekerja dalam suatu jabatan
Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas, umumnya dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahliannya. Mereka ber­upaya menekuni karier sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki, serta memberi jaminan masa depan keuangan yang baik. Bila mereka merasa cocok dengan kriteria tersebut, mereka akan merasa puas dengan pekerjaan dan tempat kerja. Sebalik-nya, bila tidak atau belurn cocok antara minat/ bakat dengan jenis pekerjaan, mereka akan berhenti dan mencari jenis pekerjaan yang sesuai dengan selera. Tetapi kadang-kadang ditemukan, meskipun tidak cocok dengan latar belakang ilrnu, pekerjaan tersebut memberi hasil keuangan yang layak {baik), mereka akan bertahan dengan pekerjaan itu. Sebab dengan penghasilan yang layak (memadai), mereka akan dapat membangun kehidupan ekonomi rumah tangga yang mantap dan mapan.
Masa dewasa muda adalah masa untuk mencapai puncak prestasi. Dengan semangat yang menyala-nyala dan penuh idealisme, mereka bekerja keras dan bersaing dengan teman sebaya (atau kelompok yang lebih tua) untuk menunjukkan prestasi kerja. Dengan mencapai prestasi kerja yang terbaik, mereka akan mampu memberi kehidupan yang makmur-sejahtera bagi keluarganya.
f.       Mulai bertangung jawab sebagai warga Negara secara layak
Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup tenang, damai, dan bahagia di tengah-tengah masyarakat. Warga negara yang baik adalah warga negara yang taat dan patuh pada tata aturan perundang-undangan yang ber-laku. Hal ini diwujudkan dengan cara-cara, seperti:
1.      Mengurus dan memiliki surat-surat kewarganegaraan (KTP, akta kelahiran, surat paspor/visa bagi yang akan pergi ke luar negeri)
2.      Membayar pajak (pajak televisi, telepon, listrik, air. pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan)
3.      Menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat dengan mengendalikan diri agar tidak tercela di mata masyarakat
4.      Mampu menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat (ikut terlibat dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti membersihkan selokan, memperbaiki jalan, dan sebagainya).
Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi seseorang, sesuai dengan norma sosial-budaya yang berlaku di masyarakat. Bagi orang tertentu, yang menjalani ajaran agama (rnisalnya hidup sendiri/selibat), mungkin tidak mengikuti tugas perkembangan bagian ini, yaitu mencari pasangan hidup dan membina kehidupan rumah tangga. Baik disadari atau tidak, setiap orang dewasa muda akan melakukan tugas perkembangan tersebut dengan baik.
g.      Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya
Masa dewasa awal ditandai juga dengan membntuk kelompok-kelompok yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Salah satu contohnya adalah membentuk ikatan sesuai dengan profesi dan keahlian.[10]
6.      Peran pendidikan
                  Pada dewasa muda, sudah memiliki tingkat kesadaran moral, spiritual dan agama. Pada fase ini, peran pendidikan dewasa muda sangat diperlukan. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih, maka diperolehlah dengan cara pendidikan. Sehingga menjadikan orang dewasa mampu umtuk berintelektual dan membimbing anak-anaknya dalam rumah tangga.
C. Dewasa Madya (Dewasa Menengah)
1.         Perkembangan fisik
                 Dewasa madya ini berkisar umur 41-60 tahun. Status kesehatan menjadi persoalan utama masa dewasa madya, hal ini dikarenakan adanya sejumlah perubahan fisik. Perubahan kejantanan bagi pria dan juga bagi wanita mengalami berkurang/ hilangnya kesuburan. Seperti, pada wanita mengalami monopouse.[11]
2.         Perkembangan kognitif
                        Menurut schaie, dewasa madya mamiliki tahapan kognittif, yaitu:
a.       Tahap tanggung jawab (responsibility stage)
     Sama halnya dengan dewasa madya, sebagai makhluk sosial, mau tak mau seseorang harus mampu mempertanggung jawabkan segala tindakannya secara etika, moral kepada masyarakat.
            Masa dewasa muda, akan dituntut rasa tanggung jawabnya sebagai individu yang bekerja di lembaga sosial tempat ia bekerja, serta dituntut tanggung jawabnya sebagai individu yang telah membina kehidupan rumah tangga. Jadi, yang disebut dengan masa tanggung jawab, menurut schaie adalah rasa tanggung jawab yang harus diwujudkan dalam kehidupan masa dewasa muda sebagai seorang yang bekerja di lingkungan lembaga sosial-pekerjaan ataupun lembaga sosial keluarga.
b.      Tahap eksekutif (executive stage)
     Masa ketika individu telah mencapai puncak kareir sehingga ia memiliki pekerjaan, peran, dan tanggung jawab yang lebih besar dalam sistem organisasi yang dibina semasa dewasa muda sebelumnya. Individu biasanya memerlukan kemampuan pemikiran dan ketrampilan yang lebih kompleks, berkaitan dengan masalah yang dihadapinya pun lebih besar dan rumit. Mereka memantau pertumbuhan dan perkembangan segala aktivitas organisasi dari masa lalu, sekarang dan masa akan datang. Untuk itu, dibutuhkan misi dan visi ke depan yang lebih baik. Kebanyakan individu telah memcapai puncak karier, seperti direktur perusahaan, kepala sekolah, dekan fakultas. Di sisi lain, individu yang mencapai masa eksekutif, memiliki keterlibatan dalam mengurusi masalah yang ada dalam sosial-masyarakat. Dengan demikian yang dihadapi bersifat kompleks, yaitu berhubungan dengan jenis pekerjaan utama, kehidupan keluarga, tuntutan dan tanggung jawab.
c.       Tahap reorganisasional (reorganitational stage)
                 Orang mulai memasuki pensiun sehingga ia mulai mengatur ulang (reorganisasi) seluruh kemampuan intelektual, ketrampilan, dan pengalaman guna mencari makna/arti pekerjaan dalam kehidupannya. Ia tidak lagi berorientasi pada berapa gaji yang ia peroleh dalam suatu pekerjaan, tetapi apa arti/makna yang diperoleh jika ia melakukan jenis pekerjaan itu.[12]


3.         Perkembangan emosi, sosial, dan moral
                 Secara garis besar, Santronk (2002) menekankan bahwa perkembangan emosi, sosial, dan moral yang menjadi titik perhatian pada masa ini adalah berkenaan dengan beberapa hal, yaitu:
a.    Pernikahan dan cinta, terbentuknya ikatan pernikahan sepasang suami istri, al-Qur’an menggambarkan dalam surat ar-rum ayat 21,
” Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah Dia menciptakan pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaranya rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang kafir”
b.    Sindrom sarang kosong
c.    Hubungan persaudaraan dan persahabatan.
d.   Pengisian waktu luang
e.    Hubungan antar generasi.[13]
                        Selain hal-hal yang sudah disebutkan, Hurlock (1991) menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan pria dan wanita dalam menyesuaikan diri pada masa dewasa madya dapat dinilai dari empat kriteria, yaitu prestasi, tingkat emosional yang diartikan seberapa tegang individu menghadapi konflik-konflik pada usia ini, pengaruh perubahan fisik, dan rasa bahagia pada tersebut.
4.         Ciri khas perkembangan dewasa madya
                 Dalam psikologi Islam, fase ini dapat dikelompokkan pada fase futuh yaitu masa terbukanya realitas-realitas yang bersifat spiritual, seseorang dapat memahami realitas alam semesta, semuanya tersingkap sehingga indera, hati, dan akal pikirannya dapat memahami realitas dengan cerdas dan bertindak secara tepat dan terukur, sesudah tersingkap tabir komunikasi dengan Allah maka seseorang sadar bahwa kesalehan yang terbaik bukan hanya bila dapat dinikmati diri sendiri, tapi juga harus berimplikasi sosial.
                 Menurut Siti partini Suardiman masa ini adalah:
a.    Masa yang ditakuti adanya perubahan yang menuju kemunduran, maka merasa terancam sehingga menimbulkan rasa takut, merasa tersingkir, dan terabaikan, kesehatan dan kariernya merasa terancam juga, bahkan merasa tidak menarik lagi, maka sementara orang berusaha menutupi kekurangannya.
b.    Masa transisi, transisi mengalami kemunduran untuk pria, ada perubahan dalam kejantanan, bagi wanita mengalami berkurang/hilangnya kesuburan. Dengan kemunduran itu timbul usaha mempertahankan pertumbuhan sebelumnya.
c.    Masa penyesuaian kembali perubahan fisik dan psikis menyebabkan adanya perombakan apa yang telah dimiliki, yaitu pola perilaku yang layak selama masa dewasa muda. Perilaku akan seirama dengan datangnya perubahan-perubahan selanjutnya
d.   Masa keseimbangan dan tak keseimbangan. Keseimbangan dialami oleh mereka yang berusia setengah umur, namun masih mengalami kegoncangan dalam penyesuaian diri.[14]
5.         Tugas-tugas perkembangan dewasa madya
                 Menurut Hurlock (dalam Mappiare, 1983) secara garis besarnya, tugas perkembangan masa dewasa madya ini dapat dibagi menjadi 4 bagian besar,
a.    Tugas perkembangan yang berhubungan dengan penyesuaian terhadap keadaan fisiologis
b.    Tugas perkembangan yang berhubungan dengan adanya perubahan minat, berkenaan dengan aktivitas sosial, sebagai warga negara
c.    Tugas perkembangan yang berhubungan dengan penyesuaian jabatan, atau pekerjaan yang berhubungan dengan pemantapan kehidupan ekonomi
d.   Tugas perkembangan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga.
6.         Peran Pendidikan
                 Pada usia dewasa madya, pendidikan sudah melemah. Karena pada usia dewasa madya, adalah usia yang telah matang. Dan pada saat ini, seseorang telah mampu mengaplikasikan pendidikan yang telah diterima itu kepada anak-anaknya. Seseorang telah menjadi orang tua dan mampu mengarahkan anak-anaknya kepada pendidikan yang lebih maju lagi, sehingga mampu menjadikan anak-anaknya sukses.
   
B. Masa Dewasa Tua
1.         Perkembangan fisik
                 Masa dewasa tua berkisar umur 60 tahun ke atas. Proses penuaan berarti menurunnya daya tahan fisik, menurut kartari (1993) lanjut usia disebabkan oleh meningkatnya usia, sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi sel, jaringan serta sistem organ.[15]
                 Departemen kesehatan RI menyatakan bahwa menjadi tua ditandai dengan kemunduran biologis yang terlihat dari gejala kemunduran fisik, antara lain:
a.    Kulit mulai mengendur dam pada wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap
b.    Rambut beruban
c.    Gigi mulai tanggal
d.   Penglihatan dan pendengaran mulai berkurang
e.    Mulai lelah
f.     Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah
g.    Kerampingan tubuh menghilang, terjadi timbunan lemak terutama di bagian perut dan pinggul.[16]
2.         Perkembangan kognitif
                 Pada masa dewasa akhir, terdapat perkembangan kognitif, yaitu:
a.    Tahap reintegratif
                        Individu pada masa ini, telah melampaui masa puncak eksekutif tersebut, mulai melepaskan diri dari berbagai kesibukan. Ia memikirkan dan merenungkan kembali apa yang dicapainya. Ia mulai mengolah segala pengalaman yang dicapainya, baik yang berhasil maupun yang gagal. Semuanya diolah kembali melalui berbagai penghayatan, pemikiran, dan perenungan mendalam guna mencari arti dan makna bagi hidupnya. Untuk itu, ia segera menengok ke dalam dunia batinnya. Kemampuan mengolah kembali segala pengalaman yang berhasil ataupun yang gagal sepanjang perjalanan hidup sebelumnya, guna memperoleh arti dan makna kehidupan pribadi. Sejalan dengan perrubahan fisiologis, seseorang mulai meninggalkan beberapa kegiatan sosial dan mencoba membatasi kegiatan yang memerlukan fungsi kognitif. Itu pun pada kegiatan yang memerlukan keahlian/pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Dengan demikian seseorang memusatkan pikiran pada tujuan tugas yang memberi arti kehidupan.
b.    Masa membuat dalil-dalil hukum.
            Menjelang akhir hidupnya seseorang membuat suatu disposisi ulang terhadap berbagai pengalaman yang diperoleh di masa-masa sebelumnya. Ia bersedia mengungkapkan kembali pengalaman tersebut kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan (biografi) agar dapat memberimanfaat bagi masyarakat luas. Dengan itu akan dapat diketahui kemampuan-kemampuan kognitif apa yang diperlukan untuk menangani suatu jenis pekerjaan tertentu. Ini berarti sebagai fungsi dari analisis jabatan.[17]
                        Perkembangan kognitif menjadi tua ditandai kemunduran-kemunduran kognitif, diantaranya: mudah lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik, orientasi umum dan persepsi terhadap waktu dan ruang, tempat dalam keadaan mundur, meskipun banyak pengalaman skor yang dicapai dalam tes intelegensi menjadi lebih rendah dan tidak mudah menerima ide-ide baru.
3.         Perkembangan emosi, sosial, dan moral
                 Lafrancois (1984) menyatakan bahwa pada dasarnya ada dua teori yang menerangkan bahwa hubungan antara umur manusia dengan kegiatannya:
a.    Teori Disangegement
                        Teori ini secara formal diajukan oleh Clumming dan Herry pada tahun 1961. Teori ini  berpendapat bahwa semakin tinggi usia manusia akan diikuti secara berangsur-angsur oleh semakin mundurnya interaksi sosial, fisik, dan emosi dengan kehidupan dunia. Terjadi suatu proses saling menarik diri atau pelepasan diri baik individu maupun masyarakat dari individu. Individu mengundurkan diri karena kesadaran akan berkurangnya kemampuan fisik maupun mental. Sebaliknya masyarakat mengundurkan diri karena ia memerlukan orang yang lebih muda yang lebih mandiri untuk menggantikan bekas jejak orang yang lebih tua.


b.    Teori activity
                        Teori ini bertolak belakang dengan teori yang pertama, menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin memelihara hubungan sosial, fisik, maupun emosionalnya. Kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada kelangsungan keterlibatannya pada berbagai kegiatan.[18]
4.         Ciri khas perkembangan dewasa tua
                 Menurut undang-undang No 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang dimaksud adalah seseorang yang berusia 60 tahun keatas dengan sesuai perubahan fisik yang menonjol sebagai ciri dewasa tua.[19]
5.         Tugas-tugas perkenbangan dewasa tua
a.     Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan secara bertahap
b.    Menyesuaikan diri dengan masa kemunduran dan berkurangnya pendapat keluarga
c.     Menyesuaikan diri atas kematian pasangan hidup
d.    Menjadi anggota kelompok sebaya
e.     Mengikuti pertemuan-pertemuan sosial dan kewajiban-kewajiban sebagai warga negara
f.     Membentuk pengaturang kehidupan fisik yang memuaskan
g.    Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara fleksibel[20]
6.         Peran pendidikan
                 Pada masa dewasa tua, seseorang kurang mampu untuk menerima pendidikan. Karena pada masa itu, segala fisik telah menurun, daya ingat juga menurun. Tetapi menurut Schaie, pada masa dewasa tua seseorang dapat mengungkapkan kembali pengalaman tersebut kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan (biografi) agar dapat memberimanfaat bagi masyarakat luas. Itu akan dijadikan suatu pengetahuan bagi generasi muda.[21]

C.    Tanggung Jawab Orang Dewasa Terhadap Pendidikan
            Sebagai orang dewasa, seseorang telah mampu menjadi orang tua dalam anak-anaknya. Para ahli sepakat, bahwa cara hidup masyarakat itu meresapnya ke dalam diri individu terjadi dalam awal perkembangan kepribadiannya melalui hubungannya dengan orang-orang dewasa khususnya orang tuanya. Nilai-nilai dan pola-pola tingkah laku dan kebudayaan itu diinternalisasi ke dalam diri anak dan secara tidak sadar menjadi bagian dirinya. Proses internalisasi itu kadang-kadang disebut juga dengan istilah akulturasi, introjeksi, atau sosialisasi.[22]
            Corak hubungan orang tua-anak sangat menentukan proses sosialisasi anak. Corak hubungan orang tua anak ini , berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Reseach Institute, dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu:
1.      Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2.      Pola memiliki-meleepaskan, pola ini didasarkan atas dasar sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
3.      Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga.[23]
Penelitian sheldon dan Eleanor Glueck menunjukkan bahwa banyak anak nakal yang berasal dari keluarga yang bersikap acuh tak acuh atau menolak terhadap anak.[24] Oleh karena itu, orang dewasa khususnya orang tua harus memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak dengan cara:
1.    Menumbuhkan rasa toleransi, kesanggupan untuk berfikir sederhana, dan mengikis prasangka dalam memberikan pertimbangan nilai (value judgements)
2.    Membantu mencapai kematangan pribadi anak-anak
3.    Membantu anak-anak supaya berhasil menyesuaikan diri dengan masyarakat sekolah maupun lingkungan.
4.    Membantu anak-anak agar menyadari kepentingan masyarakat dan menghayati masyarakatnya sendiri.
5.    Mengembangkan kemampuan intelektual anak sehingga bisa memahami kompleksitas lingkungan sosial dan peradabannya
6.    Menanamkan nilai, sikap, dan kemampuan untuk belajar, bukannya tinggal tunggu dan ”kunyah” pengetahuan yang ”dikuliahkan” para gurunya.[25]
Pendidikan Membawa Perubahan Terhadap Individu
                    Pendidikan merupakan sarana untuk mengadakan perubahan secara mendasar, karena membawa perubahan individu sampai pada akar-akarnya. “Pendidikan kembali” akan merobohkan tumpukan pasir jahiliyah, membersihkan, kemudian menggantinya dengan bangunan nilai-nilai baru.
                    Pada saat pertumbuhan anak, perlu ditanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini, sehingga sejalan dengan fitrah Allah. Anak bagaikan benih yang harus ditanam di tempat persemaian yang cocok, agar dapat berkembang, dan kita pun dapat memeliharanya. Karena itu, mereka perlu diberi makanan yang sesuai, dijaga dari bahaya dan badai yang dapat mengganggu atau menyebabkan pertumbuhannya berkembang secara tidak normal. Allah berfirman : ”Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S ar- Rad’:11 ). Dalam ayat tersebut, ada dua perubahan: pertama, perubahan pada individu; kedua perubahan pada kelompok. Hikmah Allah telah mengatakan, bahwa perubahan yang kedua (pada kelompok ) tergantung pada masing-masing individu. Keduanya saling berkaitan. Perubahan pertama merupakan sebab perubahan kedua, sedangkan perubahan kedua merupakan hasil dari perubahan pertama.Allah menghendaki agar perubahan yang pertama dilakukan oleh semua manusia, sampai mereka benar-benar dapat mengadakan perubahan pada diri sendiri.[26]
Tanggung jawab orang dewasa dalam pendidikan menurut khatib Ahmad adalah :
1.         Menjaga generasi sejak masa kecil dari berbagai penyelewengan ala jahiliyah. Mengembangkan pola hidup, perasaan dan pemikiran mereka sesuai dengan fitrah, agar mereka menjadi pondasi-pondasi yang kukuh dan sempurna di masyarakat islam.
2.         Karena pendidikan tersebut berjalan seiring dengan anak-anak, pendidikan akan mempengaruhi anak dan menjadi bagian dari kepribadiannya untuk selamanya.[27]
                    Bila kita telah sampai di masyarakat muslim, pendidikan akan akan menjadi alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Pendidikan menuntut dua tugas yang bila dilihat sekilas nampak sangat bertentangan. Yakni :melestarikan dan mengadakan perubahan. Sehingga peran dan tanggung jawab orang dewasa perlu dijaga dan dilestarikan. Dapat dijelaskan secara rinci tentang peran ibu, ayah dan juga guru yang mampu memberikan perubahan pada seorang anak, adalah :
1.         Peran ibu dalam pendidikan,
                                Peran ibu lebih besar dibanding ayah dalam mendidik anak. Karena ibu lebih banyak bergaul dengan anak,selain itu naluri ibu lebih dekat dengan anak dibandingkan ayah.
                                Oleh karena itu, ibu senantiasa mempersiapkan diri untuk mengasuh anak. Margareth R. menyatakan: merupakan kedutuhan fitriah untuk bergaul dengan ibu, seorang ibu mengasuh anaknya berarti telah mendorong anak untuk tumbuh berkembang secara sempurna.[28]
2.         Peran ayah dalam pendidikan,
                                Banyak kaum bapak yang mengira bahwa tanggung jawab mendidik anak hanya terletak pada ibu. Ayah tidak menuntut apa pun kecuali memenuhi kebutuhan materi bagi anak-anaknya dan istrinya.
                                Sebenarnya, ayah sangat berperan dalam mendidik anak, peran ayah semakin besar seiring dengan perkembangan anak. Yakni ketika ibu sibuk dengan anak baru atau adiknya, maka seorang ayah harus bias akrab dengan anaknya, agar tidak terjadi kecemburuan terhadap adiknya.
                                Misalkan pada saat anak berumur empat tahun, hendaknya ayah mengajak keluar rumah, ke masjid, ke pasar, atau ke rumah sanak keluarga. Hal itu akan menumbuhkan perasaan social pada diri anak dan dapat meneladani nilai-nilai luhur yang didapati dari seorang ayah.[29]

3.         Peran guru dalam pendidikan
                                Guru adalah orang tua di sekolah. Sehingga peran guru juga penting dalam memberikan perubahan intelektual terhadap anak. Sebagai tugas seorang guru adalah mengajar dan juga mendidik. Karena dalam lingkungan sekolah, menurut Norwood dan kawan-kawannya, persekolahan hendaknya mengandung:
a.         Upaya pembinaan rasa tanggung jawab dan menghargai akal budi,
b.        Menumbuhkan sikap mandiri di dalam melakukan telaahan, serta mengembangkan kekuatan intelektual yang bebas dan bertanggung jawab.
c.         Memberikan sejumlah pengetahuan dan pengertian tentang fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa yang menentukan dunia kehidupan yang bakal dialaminya.
d.        Mengembangkan kemampuan murid untuk menyadari masalah-masalah dan resiko-resiko yang bakal muncul di dalam pengambilan tindakan atau pilihan di sepanjang hidupnya kelak.[30]

D.    Problematika Orang Dewasa
            Dalam kehidupan, orang dewasa mengalami masalah yang lebih berat karena pada masa dewasa ini seseorang telah memiliki tanggung jawab dan tugas yang berat.
                        Problematika orang dewasa awal adalah :
1.    Masalah hari depan
                        Pemikiran akan hari depan itu semakin memuncak dirasakan oleh mereka yang duduk di bangku universitas (dewasa awal).Tidak jarang kita mendengar kalimat-kalimat yang memantulkan kecemasan akan hari depan itu,misalnya: ”hari depan suram”,”buat apa belajar, toh sama saja yang berijazah dan tidak berijazah sama-sama tidak dapat bekerja” dan sebagainya.
                        Kecemasan akan hari depan yang kurang pasti,itu telah menimbulkan berbagai problema lain, yang mungkin menambah suramnya masa depan seseorang itu, misalnya semangat belajar menurun,kemampuan berpikir berkurang, rasa tertekan timbul.perhatian mereka terhadap agama semakin berkurang, bahkan tidak jarang terjadi kegoncangan hebat dalam kepercayaan terhadap tuhan.
                        Termasuk dalam pemikiran akan hari depan itu masalah pembentukan rumah tangga dimasa depan yang tidak jauh kedudukanya dalam masyarakat dan hari depan masyarakat dan bangsanya.
2.    Masalah hubungan dengan orang tua
                        Seringkali terjadi pertentangan pendapat antara orang tua dan anak-anaknya yang telah remaja atau dewasa.kadang-kadang hubungan yang kurang baik itu timbul karena seseorang mengikuti arus dan mode, sehingga orang tua kadang-kadang lebih menderita lagi.
3.    Masalah moral dan agama
                    Tampaknya masalah ini semakin memuncak,terutama dikota-kota besar barangkali pengaruh hubungan dengan kebudayaan asing semakin meningkat melalui film,bacaan,gambar-gambar dan hubungan langsung dengan orang asing yang datang dengan berbagai sikap dan tingkah laku.biasanya kemerosotan moral disertai oleh sikap menjauh dari agama.nilai-nilai moral yang tidak didasarkan kepada agama akan terus berubah sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat.
Keadaan nilai-nilai yang berubah-ubah itu menimbulkan kegoncangan pula, karena menyebabkan orang hidup tanpa pegangan yang pasti. Nilai yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, karena nilai agama itu absolut dan berlaku sepanjang jaman, tidak dipengaruhi oleh waktu, tempat dan keadaan. Oleh karena itu, maka orang yang kuat keyakinan beragamanyalah yang mampu mempertahankan nilai agama yang absolut itu dalam kehidupannya sehari-haridan tidak akan terpengaruh oleh arus kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat serta dapat mempertahankan ketenangan jiwanya.
Sesunggunya masih banyak lagi problema yang dihadapi oleh pemuda-pemuda kita, baik yang dalam kampus, maupun luar kampus.[31]
Dari segi ilmu jiwa agama, dapat dikatakan bahwa perubahan keyakinan atau perubahan jiwa agama pada orang dewasa bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetukan saja, dan tidak pula merupakan pertumbuhan yang wajar, akan tetapi adalah suatu kejadian yang didahului oleh berbagai proses dan kondisi yang dapat diteliti dan dipelajari. Perkembangan jiwa agama pada orang dewasa, yang terpenting ialah yang dinamakan ”konversi agama”, keyakinan yang berupa mistik; dan perubahan ke arah acuh tak acuh terhadap ajaran agama.
Contoh permasalahan orang dewasa adalah:
1.         Seorang pedagang kaya berasal dari satu daerah yang terkenal kuat agamanya dan adat kebiasaannya. Si pedagang ini seringkali bepergian ke daerah lain dan luar negeri untuk urusan dagang. Apabila dia berada di daerahnya, dia berlaku pura-pura alim, ikut ke masjid dan pura-pura tekun beribadah. Akan tetapi, apabila berada di luar daerahnya, ia berbuat apa saja yang disukainya, minum-minuman keras, berjudi, main wanita dan sebagainya. Istrinya tinggal di daerahnya. Hidup seperti ini berlarut-larut dan semakin jauh dari agama. Istri dan anak-anaknya mengetahui hal tersebut, tapi ia tetap pura-pura ketika berada di tengah mereka. Pada suatu hari, dalam asyik-asyiknya ia bersenang-senang dengan dan berfoya-foya dengan wanita yang tidak baik, waktu mengendarai, mobilnya terbalik dan ia luka parah, diangkut ke rumah sakit. Setelah ia sadar dan mengalami perawatan, tahulah, bahwa tangannya patah dan mukanya cacat. Semangat hidupnya sudah hilang, untuk kembali minta ampun kepada Tuhan, ia takut, jangan-jangan Tuhan tidak sudi mengampuninya. Sehingga ia sedih dan putus asa.
                        Dalam konflik yang memuncak itu, terdengar sugesti dari teman-temannya, yang membawa penyelesaian bagi konflik tersebut, kata-kata: ”patah tangan tak jadi masalah, asal jangan patah hati, Tuhan maha pengampun dan maha penyayang.” Terngiang-ngiang di telinganya seolah-olah itulah satu-satunya penyelesaian yang dapat ditempuhnya. Dan dia merasa bahwa ia harus hidup untuk merasa keampunan dan kesayangan Allah. Dengan harapan dan semangat baru itu ia makin cepat sembuh dan konflik jiwa sudah hilang. Dia merasa bahwa tidak ada lagi penyesalan, dosa telah terampun, tampan dan kondisi jasmaniahnya tidak menjadi soal lagi. Dalam keadaan itulah ia mati.
2.         Seorang wanita cantik, istri dari seorang dokter terkenal, yang mempunyai dua anak. Dalam hidupnya, keluarga itu tampak bahagia, diliputi oleh kegembiraan, kemewahan dan kedudukan, telah lupa kepada Tuhan, pandangan mereka terhadap agama acuh tak acuh, bahkan memandang rendah terhadap orang yang beragama. Anak mereka dididik secara modern, tanpa mengenal agama sedikitpun. Salah satu anak mereka dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan studinya di sana.
                        Pada saat puncak kemewahannya, si suami meninggal dunia dengan mendadak, tak lama sudah itu anaknya yang di tanah air pun meninggal dunia. Tinggallah si ibu sendirian menghadapi penderitaan karena putranya yang satu di luar negeri. Penderitaan ibu tersebut rupanya belum cukup lagi, karena anaknya yang tinggal satu-satunya menikah dengan orang asing yang beragama lain (katolik). Si ibu merasa putus asa, bingung, ia merasa kesepian hidup di dunia yang ramai ini. Segala kemewahan dan kedudukan yang dinikmatinya dulu bertukar menjadi penyesalan bagi penderitaannya. Dalam kekalutan yang dipikirannya, seorang kenalannya mengajaknya pergi ke masjid. Dulu ia tak pernah mengindahkan agama, namun ajakan tersebut tidak ditolaknya. Sejak itu, dengan tekun ia mempelajari agama, dan merasa bahwa inilah tempat lari baginya. Satu-satunya yang dicapai adalah keridhaan tuhan, sehingga hartanya disumbangkan untuk yatim piatu, mesjid dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dia merasa bahwa segala dosa telah diampuni Tuhan, dia merasa bertanggung jawab untuk membela anak yatim, membina tempat pendidikan dan ibadah. Jiwanya yang tadinya kesepian, pada akhir hayatnya berubah menjadi jiwa yang penuh rasa kekeluargaan.
3.         Seorang perwira tinggi di zaman ORLA (Orde lama), yang hidup dalam kemewahan, kesenangan dan tiada kurang suatu apapun. Terhadap agama perhatiannya sama sekali tidak ada, tidak satupun ajaran agama yang dikenalnya. Tapi menurut catatan, ia adalah orang Islam.
       Dalam segi moral, ia mempunyai suatu prinsip yang barangkali agak merata di kalangan pejabat tinggi di zaman Orde lama, yaitu bahwa hubungan seks dengan wanita di luar nikah adalah biasa dan telah menjadi hak dan keharusan pangkatnya. Bahkan si istri pun merasa bahwa perbuatan yang dilakukan oleh suaminya itu boleh saja dan tidak ada jeleknya, asal tidak kawin dengan wanita-wanita tersebut.
        Keadaan tentram dan gembira itu mulai terganggu karena suami menderita bermacam-macam penyakit yang sukar disembuhkan. Yakni Psikosomatik (sakit jasmani yang disebabkan oleh kegoncangan jiwa). Penyakitnya makin lama makin berat dan bertambah banyak macamnya. Sehingga ia merasa putus asa. Segala cara telah ditempuh demi kesembuhannya. Dengan dokter-dokter spesialis, ia telah bosan, lalu mulailah ia minta nasihat dukun, padahal selama hidupnya dulu, ia tidak percaya kepada kemampuan dukun. Kemudian seseorang telah menasehatinya untuk mendatangi Prof. Zakiah Darajat dan konsultasi dengannya. Dalam masa-masa konsultasi itu, segala konflik dan ketegangan batin yang dirasakannya diungkapkan keluar. Di saat itulah penulis mengatakan kepadanya, ”Dekatkanlah jiwa kepada-Nya, dengan memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa yang lalu dan tunaikanlah segala perintah-Nya.”
Sejak saat itulah ia bersama-sama dengan istrinya belajar sembahyang dan menghafalkan doa-doa serta ayat-ayat pendek. Sejak itulah ia belajar sembahyang, serta mencoba berpuasa. Sedikit demi sedikit tampak perubahannya dan batinnya mulai tentram dan ia mengungkapkan rasa hatinya itu sebagai berikut, ”Tuhan rupanya telah mengampuni saya.”
4.    Bagi setiap orang Islam yang mengenal sejarah Islam, tentunya tidak akan asing baginya riwayat Umar bin Khattab sebelum dan sesudahnya masuk Islam.
Umar adalah seorang bangsawan Arab yang terkenal berani, keras, kasar, pantang kalah dalam perkelahian, pintar bicara, pantai main dan selalu memperlihatkan kekuatan dan kebengisannya. Setiap orang di kota Mekkah takut kepadanya.
Ketika Nabi Muhammad saw. Mulai secara sembunyi-sembunyi menyiarkan ajaran Islam kepada sahabat-sahabatnya yang terdekat, Umar telah mendengarnya. Ia ingin menghentikan seruan Nabi Muhammad itu, akan tetapi, tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak diketahuinya. Pengikut Muhammad makin lama makin bertambah juga, walaupun mereka takut kepada Umar.
Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang dari berburu, Umar bermaksud akan langsung cari Muhammad dan membunuhnya. Ketika sampai di kota, orang yang pertama sekali bertemu dengan dia adalah suami adiknya,yang telah masuk Islam. Umar bertanya, ”Di mana Muhammad?” matanya tampak berapi-api.
Adik iparnya itu cemas melihat gelagat Umar bertanya, tentu ia akan melakukan sesuatu terhadap Muhammad.Lalu dijawabnya,”Buat apa Muhammad Tuan cari?”
Umar terkejut mendengar pertanyaan adik iparnya itu, kenapa dia berani berkata seperti itu.Sambil menjawab, ”Saya memerlukanya, akan saya bunuh supaya ia berhenti dari perbuatan mengembangkan keyakinan yang baru itu.”
Iparnya menjawab lagi,  ”Apakah Tuan ingin membunuh orang yang baik yang berusaha memperbaiki segala kebobrokan ini dan membawa manusia kepada jalan yang benar?”
Umar marah mendengar jawaban adik iparnya, serta menanyakan, ”Apakah enkau juga sudah menjadi pengikut Muhammad ?”
Tanpa ragu-ragu dia menjawab, ”Ya.”
Umar semakin marah dan langsung menghunus pedang, serta maju menyerang. Iparnya membela diri dan menghindari pedang Umar sambil berkata,”Tuan menyerang aku, sedang adik Tuan sendiri (istrinya) juga telah menjadi pengikut Muhammad.”
Dia merasa sangat terkejut mendengar bahwa adiknya sudah menjadi pengikut Muhammad pula, iparnya itu, ditinggalkannya dan langsung pergi menuju rumah adiknya. Waktu sampai di pintu, terdengar olehnya adiknya sedang membaca Al-Qur’an (sedang belajar dengan seorang guru). Pintu diketoknya dengan keras. Adiknya segera membuka pintu, ketakutan. Begitu pintu terbuka, Umar menanyakanapakah betul adiknya telah menjadi pengikut Muhammad sambil memukulnya langsung.
Adiknya menjawab, ”ya, saya ikuti dia, karena ada hal yang baik yang saya pelajari darinya.”
Kemarahan Umar semakin bertambah mendengar jawaban itu, sehingga bertambah keras pula pukulannya, sampai adiknya luka-luka dan bajunya berlumuran darah.
Melihat adiknya berlumuran darah itu, ia berhenti, dan bertanya: ”Apa yang terjadi kedengaran oleh saya dari luar?”
Kata adiknya, ”Ayat Al-Qur’an”
”Mana dia? perlihatkan kepadaku!” bentak Umar.
Kata adiknya, ”Tidak, engkau kotor, tidak boleh menyentuhnya, engkau harus mandi dulu sebelum menyentuhnya.”
”Baiklah,” kata Umar, ia pergi mandi. Setelah itu kembali kepada adiknya. Lalu Umar mengambil lembaran yang ditulis diatasnya ayat-ayat tadi, lalu dibacanya:
طه (*) انزلنا ءليك القرءان لتشقي (*) الا تذكرة لمن يخشي (*) تنزيلا ممن خلق الارض والسموات العلا (*)
Setelah membaca ayat-ayat itu, dia diam sebentar lalu pergi menemui Muhammad. Di rumah Muhammad, Umar menyatakan keislamannya. [32]


E.     Peran Agama dalam Kehidupan Orang Dewasa
                                    Dalam menghadapi problematika orang dewasa tersebut, peran agama sangat dibutuhkan. Dalam masa dewasa ini, telah tercipta kematangan beragama yang biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.
                        Ciri-ciri sikap keberagamaan pada masa dewasa:
1.         Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2.         Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.         Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman agama.
4.         Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.         Bersikap lebih kritis dan terbuka terhadap materi ajaran agama.[33]
                                    Ciri-ciri keagamaan pada usia lanjut
1.         Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan
2.         Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan
3.         Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4.         Timbul rasa takut terhadap kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjut
5.         Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi/akhirat.[34]
Dalam mengatasi problematika orang dewasa, hukum dan ketentuan agama itu perlu mereka ketahui. Di samping itu yang lebih penting lagi ialah menggerakkan hati mereka untuk secara otomatis terdorong untuk mematuhi hukum dan ketentuan agama. Jangan sampai pengertian dan pengetahuan mereka tentang agama hanya sekedar pengetahuan yang tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Untuk itu diperlukan usaha pendekatan agama dengan berbagai ketentuannya kepada kehidupan sehari-hari dengan jalan mencarikan hikmah dan manfaat setiap ketentuan agama itu. Jangan sampai mereka menyangka bahwa hukum dan ketentuan agama merupakan perintah Tuhan yang terpaksa mereka patuhi, tanpa merasakan manfaat dari kepatuhannya itu. Hal itu tidak dapat dicapai dengan penjelasan sederhana saja, tapi memerlukan pendekatan-pendekatan secara sungguh-sungguh, yang didasarkan atas pengertian dan usaha yang sungguh-sungguh pula.[35]
Sebagai kesimpulan bahwa pembinaan kehidupan beragama bukanlah suatu usaha yang dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana, tapi perlu memahami dan menguasai berbagai ilmu alat sebagai bekal untuk membawa mereka dekat kepada agama dan membawa agama ke dalam kenyataan hidup mereka.

                        Peran agama dalam kehidupan masa dewasa:
1.         Agama mampu menyelesaikan konflik batin dan masalah yang dihadapi. Karena dengan beragama, maka seseorang akan mempercayai bahwa Allah akan dapat memberikan petunjuk.
2.         Menjadikan seseorang untuk lebih sabar dan tenang menghadapi masalah.
3.         Agama mampu menentramkan jiwa manusia.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
   Masa dewasa terbagi menjadi tiga bagian, yakni dewasa muda, dewasa madya dan dewasa tua. Dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.
Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan kestabilan emosi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Darajat, Zakiah. 2005. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Dariyo, Agoes. 2003. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT Grasindo.
Hidayati, Wiji. 2008. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Teras.
Hurlock, Elizabeth. Developmental Psychology. alih bahasa Istiwidayanti, et. al. 1990. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Nashori, Fuad. 2003.  Potensi-potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Partini, Siti Suardiman. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Islam Negeri Yogyakarta.
Robeth, Crapps W. 1994. Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan. Yogyakarta: Kanisius.
Santhut, Khatib A. 1998. Menumbuhkan Sikap Sosial, Moral, dan Spiritual Anak dalam Keluarga Muslim. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama.  Jakarta: PT  RajaGrafindo Persada.                                


[1]Elizabeth H. Hurlock, Developmental Psychology, alih bahasa Istiwidayanti, et. al., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga, 1990, hlm 13.
[2] Crapps Robeth W., Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan, Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm 31-32
[3] Ibid., hlm 31-35
[4] Wiji Hidayati, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Teras, 2008, hlm 154
[5] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda, Jakarta: Grasindo, 2003, hlm 6
[6]Ibid, hlm 60-62
[7] Wiji Hidayati, op.cit., hlm 156
[8] Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hlm 156-157
[9] Wiji Hidayati, op.cit., hlm 152
[10] Agoes Dariyo, op.cit, hlm 105-108
[11] Wiji Hidayati, op.cit. hlm 154
[12] Agoes Dariyo, op.cit, hlm 62-63
[13] Wiji Hidayati, op.cit, hlm 156-157
[14] Ibid, hlm 153-154
[15] Wiji Hidayati, Op.cit, hlm 155
[16] Siti Partini Suardiman, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Islam Negeri Yogyakarta, 2006, hlm 177
[17] Agus Dariyo, Op.cit, hlm 63-64
[18] Wiji Hidayati, Op.cit, hlm 157-158
[19] Ibid, hlm 154
[20] Ibid., hlm 175
[21] Agus Dariyo, Op.cit, hlm 64
[22] Abu Ahamdi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1991, hlm 180
[23] Ibid
[24] Ibid, hlm 181
[25] Ibid, hlm 152
[26] Khatib Ahmad Santhut, Menumbuhkan Sikap Sosial, Moral, dan Spirptual Anak dalam Keluarga Muslim, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1998, hlm 12-13
[27] Ibid, hlm 14-15
[28] Ibid, hlm 17-18
[29]  Ibid, hlm 17-22
[30] Abu Ahmadi, Op.cit, hlm 149-150
[31] Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, hlm 145-147            
[32] Ibid, hlm 163-174
[33] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT  RajaGrafindo Persada, 2004, hlm 87-88
[34] Ibid. hlm 90
[35] Zakiyah Darajat, Op.cit,  hlm 150

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar